Di tengah dunia yang penuh dengan distraksi digital, perhatian seolah menjadi mata uang baru saat ini. Banyaknya arus informasi membuat iklan menjadi tidak mudah masuk ke dalam benak pelanggan karena proporsi untuk menjadi perhatian itu terbatas.
Salah satu teknik marketing yang relevan dengan perilaku konsumen masa kini adalah dengan storytelling. Pelanggan tidak hanya dijejali dengan informasi produk, tapi lebih berfokus ke bagaimana bisa masuk ke sisi emosional pelanggan menggunakan cara bercerita yang tepat.
Tidak harus menunggu menjadi penulis novel untuk bisa mempelajari teknik storytelling dalam marketing, kamu bisa mempelajarinya sebagai pemula untuk memasarkan produk atau layananmu. Simak penjelasan tentang teknik storytelling dalam marketing di artikel berikut, ya!
Mengenal Storytelling
Storytelling adalah kemampuan atau aktivitas menyampaikan cerita menggunakan media tertentu, misalnya tulisan, lisan, visual, dan lain sebagainya. Lalu, apa yang diceritakan?
Nah, kamu bisa menyampaikan pesan, informasi, bahkan data yang dikemas dengan cara tertentu agar lebih mudah dipahami. Jadi, storytelling tidak hanya terbatas pada cerita fiksi, ya.
Perbedaan teknik ini dengan komunikasi biasa adalah pada sisi emosional audiens. Komunikasi biasa hanya berfokus pada informasi atau data, sedangkan storytelling menitik beratkan pada apa yang dirasakan audiens terhadap cerita yang disampaikan.
Teknik Storytelling dalam Marketing
Dalam dunia marketing, storytelling menjadi salah satu teknik untuk memanusiakan sebuah brand. Misalnya begini: marketing tradisional mengatakan dengan lugas untuk pelanggan membeli sebuah produk, sementara storytelling membisikkan dengan tidak langsung bahwa sebuah produk mampu membantu menyelesaikan masalah pelanggan.
Mari kita bedah lebih lanjut. Teknik storytelling dalam marketing adalah penggunaan narasi yang menghubungkan nilai-nilai sebuah brand dengan target pelanggan. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui siapa target pelangganmu terlebih dahulu agar bisa membangun narasi yang tepat bagi mereka.
Jika pelanggan merasakan sesuatu dari narasi yang sudah disampaikan, maka akan muncul dorongan di benak pelanggan untuk melakukan aksi yang kita inginkan. Misalnya membeli produk, berlangganan kanal Youtube, mendaftar kelas, dan lain sebagainya.
Teknik bercerita menjadi penting dalam strategi marketing karena mampu membantu sebuah brand untuk menarik perhatian target pelanggan. Perhatian adalah jendela awal untuk menempatkan bagaimana posisi brand kamu di benak pelanggan.
Tidak hanya untuk penjualan, teknik bercerita yang tepat juga membuka pintu untuk membantu dalam membangun loyalitas pelanggan. Pelanggan cenderung mendukung brand dengan nilai-nilai yang sejalan dengan mereka. Nah, nilai-nilai tersebut bisa disampaikan melalui teknik bercerita.
Baca juga: Deep Work Jadi Cara Fokus Maksimal di Era Digital3 Pilar dalam Bercerita
Ada beberapa hal yang menurutku penting untuk diketahui seseorang sebelum mulai bercerita, termasuk teknik storytelling dalam marketing. Berikut ini adalah pilar-pilar yang menjadi dasar penting untuk membangun cerita yang sesuai dan padu:
1. Karakter
Karakter adalah tokoh yang bisa dibayangkan audiens. Tokoh tersebut mempunyai kebutuhan dan keinginan spesifik yang sesuai dengan target pelanggan. Jadi, cerita tidak semata-mata tentang brand tapi lebih ke bagaimana pelanggan bisa menempatkan dirinya pada posisi tokoh utama cerita.
2. KonflikĀ
Tanpa adanya masalah, tidak ada yang namanya cerita. Bayangkan jika film favorit kamu lurus saja tanpa masalah. Mungkin film akan berakhir dalam 10 menit pertamanya.
Nah, begitu juga dengan bercerita untuk pelanggan. Pastikan untuk mengidentifikasi masalah apa yang membuat pelanggan frustasi atau mengganggu kehidupan mereka. Masalah inilah yang menjadi sumber konflik dalam ceritamu.
3. Resolusi
Ingat bahwa kita menulis untuk kebutuhan pemasaran. Penting untuk mengetahui bahwa bagaimana produk kita menjadi sebuah alat yang solutif. Posisikan produk kamu sebagai resolusi yang membantu tokoh untuk mengatasi konflik tersebut.
Langkah-Langkah Storytelling
Mari kita pahami langkah-langkah menulis terkait teknik storytelling dalam marketing agar kamu lebih paham tentang teknik yang satu ini. Sebenarnya rangkaian langkah di bawah ini masih berkaitan erat dengan 3 pilar yang sudah kita bahas sebelumnya. Yuk, kita uraikan secara sebagai berikut:
1. Tentukan Audiens
Pahami bahwa audiens utama dari cerita kamu adalah target pelanggan. Bukan hanya dengan bermodalkan perasaan, kamu bisa memahami target pelanggan dengan membuat customer persona.
Persona tersebut bisa didapat dengan riset berdasarkan data penelitian ilmiah atau bisa juga dengan wawancara dengan narasumber yang tepat. Membuat persona ini membantu kamu sebagai penulis untuk menulis cerita dengan lebih mudah.
Audiens menjadi karakter utama dalam cerita tersebut. Dengan adanya persona, kamu bisa lebih mudah membayangkan bagaimana dia berperilaku atau berbicara karena kamu sudah paham dengan kebutuhan dan keinginannya.
2. Tentukan Konflik
Seperti yang kita bahas sebelumnya, konflik yang dimaksud adalah masalah pelanggan yang berkaitan dengan nilai atau produk yang ditawarkan brand. Di sinilah kamu berperan untuk membangun narasi awal tentang bagaimana brand membantu target pelanggan.
Pilih masalah yang relevan sehingga mampu menghubungkan pelanggan dengan brand. Benang merah yang tepat bisa menjadi jembatan untuk memberikan resolusi yang sesuai pula.
3. Buat Resolusi dari Brand
Brand hadir sebagai alat untuk membantu pelanggan baik dengan produk, layanan, atau nilai-nilai yang tepat. Karenanya, penting bagi kamu untuk punya product knowledge yang memadai. Jangan sampai memberikan informasi yang salah hingga muncul miskonsepsi yang justru merugikan brand kamu.
4. Tambahkan CTA
Call to Action atau CTA adalah arahan yang diberikan pada audiens agar mereka melakukan sebuah aksi. Jenis aksinya tentu beragam, tergantung kebutuhan brand pada waktu itu. Misalnya, membeli produk atau berlangganan layanan.
Bagaimana kamu menyampaikan CTA juga beragam sesuai dengan tujuan dari campaign kamu pada saat itu. Misalnya bisa disampaikan dengan lugas seperti: Beli Sekarang, Klik di Sini, dan Nyalakan Lonceng.
Atau bisa juga disampaikan dengan lebih tidak tersirat seperti: saatnya ambil langkah strategis untuk bisnis dengan layanan berbasis keberlanjutan, pada sebuah campaign brand yang mengangkat nilai keberlanjutan.
Belajar menulis dimulai dari membaca dan kamu sudah memulai perjalanan menulismu dengan membaca artikel ini. Teknik storytelling dalam marketing adalah langkah strategis agar bisa bersaing di tengah ketatnya persaingan bisnis masa kini. Semoga artikel ini bermanfaat, ya. Jangan lupa baca artikel-artikel menarik lainnya di blog Amelia Talida!

