Pernahkah kamu merasa sibuk seharian tapi tidak benar-benar ada hasil optimal dari proyek yang dikerjakan? Tenang kamu tidak sendiri, fenomena ini bisa terjadi karena sibuk dan produktif adalah dua hal yang berbeda.Terkadang kita merasa sudah melakukan banyak hal tapi tetap tidak bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik sesuai waktu yang dijadwalkan karena terlalu fokus pada tugas-tugas pada level permukaan.
Sebagai bagian dari usaha untuk meningkatkan efektivitas dan produktivitas dalam kehidupan sehari-hari, kamu bisa menerapkan strategi deep work. Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel berikut.
Apa Itu Deep Work?
Mari kita pahami dari pengertiannya terlebih dahulu. Deep work berarti kemampuan untuk fokus pada tugas yang menuntut kognitif tanpa gangguan. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Cal Newport, seorang profesor ilmu komputer sekaligus penulis buku tentang produktivitas.
Deep work menjadi sebuah kondisi saat otak mampu bekerja hingga batas optimal kemampuannya untuk menghasilkan nilai baru yang bersifat personal atau bahkan autentik.
Kebalikan dari kemampuan ini dikenal dengan shallow work. Shallow work adalah tugas-tugas pada level permukaan yang bisa dilakukan tanpa perlu ide-ide baru. Misalnya, merapikan folder di komputer dan membalas email rutin.
Masalahnya, banyak dari kita yang menghabiskan lebih banyak waktu dan tenaga untuk menyelesaikan tugas-tugas di level permukaan sehingga karya besar kita tidak pernah selesai sesuai dengan rencana.
Menelaah Fokus pada Deep Work
Seperti kita pahami bersama, deep work berkaitan erat dengan fokus dan sulit fokus menjadi penyebab utama kenapa kita sulit bekerja pada level deep work. Lalu, kenapa kita sulit untuk fokus?
Sebenarnya, ada berbagai faktor yang memengaruhi. Mari kita telaah bersama. Hidup di dunia modern nyatanya tidak hanya membuat hidup menjadi semakin praktis, tapi juga membuatnya dipenuhi dengan distraksi.
Gawai yang semakin canggih dan membludaknya konten di media sosial membuat kita terpapar oleh informasi yang berlebih. Notifikasi yang muncul terus menerus hingga kebiasaan multitasking membuat kita menjadi semakin mudah terdistraksi.
Mari ambil contoh pada kegiatan yang pasti kita lakukan setiap hari, makan. Kebutuhan mendasar yaitu makan pun tidak luput dari paparan media digital. Siapa di sini yang tidak bisa makan tanpa ditemani tontonan?
Menyuap sambil menonton video konspirasi sampai podcast di Youtube sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari manusia masa kini. Atau bisa juga ditemani series favorit pada platform streaming yang kamu bayar setiap bulannya.
Kita mungkin tidak sadar, tapi perlahan kita sudah melakukan multitasking dan tidak fokus pada satu kegiatan saja. Setiap kali kita melakukan aktivitas misalnya menulis artikel, lalu mengecek notifikasi ponsel selama 30 detik, otak kita tidak langsung kembali fokus ke tulisan.
Saat berpindah fokus dari satu aktivitas ke aktivitas lain pun secara tidak langsung kita mengurangi durasi atensi kita pada satu hal. Sehingga, untuk fokus pada satu tugas dalam jangka waktu yang panjang menjadi tidak mudah. Padahal kita tahu, karya besar lahir dari kerja keras yang dibangun dalam waktu yang tidak sebentar.
Dari sini kita pahami kalau mempunyai fokus tingkat tinggi adalah kunci untuk mencapai level kemampuan deep work. Namun, fokus bukanlah gelas kaca yang sekalinya pecah tidak bisa direkatkan kembali. Kamu bisa membangun kembali kemampuan fokus dengan langkah-langkah sederhana.
3 Langkah Sederhana Memulai Deep Work
Membangun kemampuan fokus selaras dengan membangun kemampuan untuk deep work. Tidak harus dengan teori rumit yang fantastis, kamu bisa memulai deep work dengan langkah-langkah sederhana sebagai berikut:
1. Buat Ruang Hampa Digital
Saya paham kalau gawai adalah bagian yang tidak terlepaskan dari kehidupan sehari-hari. Namun, memilih waktu untuk fokus bisa dimulai dari membuat ruang hampa digital.
Luangkan waktu untuk fokus pada apa yang kamu kerjakan dengan menjauhkan ponsel dari genggaman. Abaikan notifikasi sejenak agar kamu bisa menghabiskan waktu sepenuhnya untuk mengerjakan apa yang sedang kamu usahakan.
Jika pekerjaan mengharuskan menggunakan perangkat seperti laptop untuk menulis atau mengedit, usahakan juga untuk menutup tab-tab pada browser yang tidak relevan. Dengan mengkurasi jumlah informasi yang kamu serap dalam satu waktu, semakin dalam pula pemahaman kamu pada informasi tersebut.
2. Tentukan Ritual yang Konsisten
Tahukah kamu kalau otak menyukai pola? Otak manusia secara alami mencari pola karena dirancang untuk efisiensi dan menyederhanakan kompleksitas di dunia ini. Kalau kamu selalu minum kopi dengan iringan musik instrumental sebelum menulis, otakmu akan menangkap pola bahwa inilah waktunya fokus untuk menulis.
Ritual yang dibangun dengan konsisten bisa membantu untuk mengurangi hambatan mental saat memulai pekerjaan berat. Seperti kita semua tahu, bagian tersulit dari sebuah pekerjaan adalah memulainya.
Maka dari itu, jangan ragu untuk menentukan ritual versi kamu sendiri. Pilih kegiatan sederhana tapi bermakna yang bisa kamu lakukan secara konsisten. Buat otakmu membaca pola bahwa inilah waktunya fokus untuk bekerja.
3. Tetapkan Target yang Spesifik
Terkadang, pekerjaan tanpa target yang jelas membuat kita sulit memulai apa yang seharusnya kita mulai. Karena kita bingung, memulainya dari mana, tujuannya ke mana, langkah-langkahnya apa saja, dan lain sebagainya.
Tetapkan target yang spesifik agar pekerjaan bisa lebih tergambar jelas, meskipun kamu bisa fleksibel dalam pengerjaannya. Misalnya, saya akan menulis artikel 900 kata hari ini.
Nah, dengan jangka waktu dan output yang jelas, otak akan lebih terpacu untuk mengerjakan tugas yang menjadi prioritas. Selain itu, target yang jelas juga memberikan arah pada energi mentalmu.
Perkembangan teknologi digital tidak dapat kita hentikan, tapi bagaimana cara menghadapinya ada di tangan kita. Jadikan teknologi digital sebagai alat untuk mempermudah pekerjaan dan mencapai efektivitas optimal. Jangan sampai justru kita yang terbawa arus sepenuhnya tanpa arah yang jelas.
Kamu bisa memulai deep work untuk membangun cara kerja efektif demi mencapai produktivitas level tinggi, tidak hanya sibuk pada hal-hal di permukaan. Semoga artikel ini membantu, ya. Bagikan respon ataupun pertanyaanmu di kolom komentar, yuk!

